Dwipw's Blog

Krisis Global Berpotensi Ganggu Ekspor dan Investasi Sumatera Utara

Posted on: April 18, 2010

Krisis Global Berpotensi Ganggu Ekspor dan Investasi Sumatera Utara
Medan (Berita): Krisis global yang masih terjadi sampai sekarang sangat berpotensi menganggu investasi maupun ekspor Sumatera Utara ke mancanegara, terutama ekapor minyak kelapa sawit (CPO).
Hal itu diutarakan Deputi Pemimpin Bank Indonesia Medan/Koordinator Wilayah BI Sumut-NAD Sutikno, SE,MA pada pembukaan dalam diskusi/pencerahan Ekonomi Moneter dan Perbankan Syariah, BI Medan bersama Wartawan Ekonomi dan Bisnis (WEB) di Theme Park Resort, Pantai Cermin Kamis kemarin.
Diskusi yang digelar BI Medan tersebut berlangsung 6 – 8 Nopember 2008. Hadir di sana Kabid Ekonomi dan Moneter BI Medan Maurids H Damanik bersama deputinya Elly Chan, Humas Samsir Alam dan Hanafi.
Pembicara selain Maurids juga dua pembicara dari BI Pusat yakni Peneliti Ekonomi Madya Junanto Herdiawan di Direktorat Riset Ekonomi dan Kebijakan Moneter BI Pusat mengetengahkan tentang ‘Prahara Krisis Global, Ekonomi Indonesia dan ITF’.
Hamdani Gunawan dari Direktorat Perbankan Syariah BI Jakarta memaparkan ‘Antisipasi Perbankan Syariah Terhadap UU nomor 21 tahun 2008 tentang perbankan syariah’. Analis Muda Senior BI Medan Suti Masniari Nasution memaparkan ‘Upaya Pengembangan UMKM melalui Pola Klaster’.
Usai diskusi, Jum’at (7/11) sore, peserta diskusi meninjau usaha rakyat yakni pembuatan tikar dari pandan yang kemudian dimodifikasi ke produk selop, tempat HP dan peci. Usaha tikar ini tergabung dalam Pemberdayaan Perempuan Lestari Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) ‘Tuntas’ di Desa Kuala Lama, Kecamatan Pantai Cermin, Kabupaten Serdang Bedagai. Ada 60 perajin kaum wanita yang tergabung di sini.
Sutikno mengatakan secara umum sebenarnya gejolak krisis global itu belum berpengaruh signifikan terhadap perekonomian Sumut. “Namun jika ini terus berlangsung maka berpotensi menganggu ekspor maupun investasi di Sumut,” katanya.
Ia menjelaskan potensi gangguan itu mulai nampak dari kinerja ekspor Sumut, khususnya ekspor produk unggulan sektor perkebunan yakni CPO dan karet di mana pada dua bulan terakhir mengalami penurunan harga yang cukup signifikan. Untuk harga TBS yang merupakan bahan baku CPO, sekarang di tingkat petani anjlok ke posisi Rp150 per kg. Sedangkan harga CPO di pasar internasional awal Oktober 2008 sekira 500 dolar AS per metrik ton, turun dibanding awal September 2008 sekira 650 dolar AS per metrik ton. Harga karet pertengahan September 2008 sekira 200 yen per kg, anjlok dibanding Juli 2008 sekira 400 yen per kg.
Menurut Sutikno, penurunan ini karena negara-negara pengimpor menumpuk persediaannya akibat krisis global ditambah daya beli yang menurun. Walau pemerintah menurunkan pajak ekspor (PE) CPO 0 persen, namun komoditi ini masih belum menarik juga. Begitupun, para petani sawit mau tidak mau harus memanen sawitnya agar tanamannya tidak rusak.
Meski Sutikno tidak merinci seberapa besar penyaluran kredit ke sektor perkebunan, namun ia menilai kredit yang diberikan untuk mengelola sawit berpotensi meningkatnya NPL atau kredit bermasalah yakni lancar, kurang lancar sampai macet. Tapi sampai posisi September 2008, penyaluran kredit ke sektor pertanian (mencakup di dalamnya sektor perkebunan) hanya 9,44 persen, jauh di bawah sektor industri 17,44 persen dari total kredit yang disalurkan mencapai Rp65,87 triliun. Penyaluran kredit ini meningkat 21,53 persen dibanding posisi Agustus 2008 sebesar Rp64,20 triliun.
Sisi lain, kata Sutikno, krisis global juga berpotensi menurunkan investasi asing langsung (foreign direct investment) di Sumut. Bahkan dalam jangka menengah panjang diperkirakan menimbulkan tekanan pada permintaan domestik. Juga menganggu kinerja perbankan, khususnya kredit ke sektor perkebunan.
Ia mengatakan kondisi perbankan Sumut posisi September 2008 yakni aset Rp97,46 triliun, naik 11,04 persen dibanding Agustus 2008 sebesar Rp92,87 triliun.
Dana Pihak Ketiga (DPK) Rp77,97 triliun, naik 9,35 persen dibanding Agustus 2008 sebesar Rp76,86 triliun. Persentase penyaluran kredit (LDT) sebesar 84,48 persen, naik dibanding posisi Desember 2007 sebesar 76,01 persen. NPL 3,16 persen, turun dibanding Desember 2007 sebesar 6,24 persen. Pertumbuhan ekonomi Sumut pada 2008 diproyeksikan sebesar 7,54 persen, namun realisasi hingga triwulan III (September 2008) tercapai 7,2 persen.
Sutikno menambahkan upaya BI Medan di tengah gejolak yakni memonitoring terhadap kinerja perbankan di Sumut. Mendorong perbankan agar tetap mengupayakan pembiayaan kepada dunia usaha, mengusulkan percepatan realisasi APBD Sumut guna memperkuat stimulus fiskal. Mendorong terciptanya iklim investasi yang kondusif.
Kemudian ikut dalam tim Task Force yang dibentuk Kadin Sumut dalam memonitoring dampak gejolak perekonomi9an global di Sumut. Memberikan masukan tentang perspektif ekonomi jangka pendek dan mengengah ke pejabat Pemda (Provinsi dan kabupaten/kota) antara lain dalam forum Musrenbang Sumut.

Sejahtera 2013
Sutikno menambahkan gejolak krisis ekonomi global itu merupakan tantangan untuk mencari pasar ekspor baru, jadi tidak terfokus pada satu negara dan kawasan saja. Memperkuat pasar domestik dengan efisiensi produksi, menghilangkan high cost economy, menciptakan iklim kondusif dengan clean government.
Setelah itu mendorong pembiayaan yang dilakukan perbankan, terutama pada Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) dan usaha produktif. Melakukan ekspansi APBD dengan menggali dana dan percepatan realisasi serta memperkuat fundamental perekonomian daerah berbasis UMKM.
Ia memperkirakan Sumut akan sejahtera pada tahun 2013 dengan perhitungan produk domestik regional bruto (PDRB) menjadi Rp164 triliun, pendapatan per kapita Rp11 juta, pengangguran turun jadi 6,62 persen, begitu pula dengan angka kemiskinan menjadi 7 persen.
Posisi itu dapat dibandingkan dengan kondisi tahun 2007 untuk PDRB Rp99 triliun, pendapatan per kapita Rp7,9 juta, pengangguran 10,10 persen dan kemiskinan 13,90 persen.
Peningkatan tahun 2013 itu menurut Sutikno karena konsep ‘Sumut Incorporated’ melalui upaya bersungguh dengan pengendalian inflasi, pembentukan clean government, peningkatan investasi dan ekspor, pengembangan SDM unggulan, tani rakyat, UMKM maupun daerah pantai.
Beda Dengan Krisis 1997/1998
Prakiraan itu menurut Sutikno didasari oleh krisis yang terjadi tahun 2008 beda dengan krisis tahun 1997/1998 di mana nilai tukar rupiah anjlok jadi Rp17.000 per dolar AS. “Krisis saat ini merupakan krisis global, sementara fundamental perbankan dan parameter ekonomi lainnya di Indonesia cukup kuat,” kata Sutikno.
Namun nilai tukar rupiah yang turun naik, bahkan terdepresi ke level Rp12.000-an per dolar AS, menurut Sutikno karena nilai tukar rupiah kita itu merupakan nilai tukar yang mengambang. Tapi kelemahan mata uang rupiah terhadap dolar AS masih lumayan dibanding mata uang asing lainnya seperti dolar Singapura, ringgi Malaysia dan dolar Australia.
Sebetulnya menurut Sutikno, nilai tukar rupiah yang anjlok hingga Rp12.000 per dolar AS merupakan nilai tukar yang sudah over folio. Jadi sudah saatnya sekarang nilai rupiah itu menuju keseimbangan baru dan idealnya di level Rp10.000 per dolar AS.
“BI akan terus memonitor rupiah supaya jangan anjlok terlalu tajam,” jelas dia.
Ia menjelaskan kuatnya fundamental ekonomi Indonesia saat krisis global sekarang menyebabkan nilai tukar juga berfluktuasi. Sedangkan krisis moneter tahun 1997/1998 memang kondisi ekonomi kita yang sangat rapuh, termasuk perbankan sehingga banyak bank yang ambruk dan akhirnya dilikuidasi.
Krisis ekonomi global sekarang, jelasnya, diawali dari kredit perumahan AS secara besar-besaran dan akhirnya macet. Lehman Brothers, bank investasi terbesar di AS menyatakan bangkrut dan ambruk diikuti lembaga keuangan lainnya seperti Bear and Sterns, Freddie Mac, Fannie Mae, Indy Mac, Nothern Rock, Merrill Lynch hingga AIG. Kerugian lembaga keuangan di AS sekira 500 miliar dolar AS, bahkan perkiraan terakhir bertambah mencapai 2 triliun dolar AS (15-20 persen Produk Domestik Bruto AS). Defisit anggaran untuk membiayai krisis mencapai 1 triliun dolar AS (untuk beberapa tahun ke depan).
Implikasi bagi perbankan nasional, jelas Sutikno, masih tetap menunjukkan kinerja yang baik. Rasio kecukupan modal (CAR) masih tinggi (September 2008) sebesar 17,47 persen. Sedangkan syarat dari BI CAR 8 persen. NPL September 2008 sebesar 3,32 persen. Kini penjaminan juga dinaikkan dari Rp100 juta menjadi Rp2 miliar dengan maksud untuk melindungi rupiah.
Sumber:stmiklogoka.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

April 2010
M T W T F S S
« Mar   May »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
2627282930  
%d bloggers like this: