Dwipw's Blog

KRISIS EKONOMI GLOBAL

Posted on: April 18, 2010

Krisis Ekonomi Global
Sejumlah ekonom dunia termasuk Paul Krugman, peraih hadiah nobel ekonomi, yang pada awalnya sangat optimis Amerika Serikat (AS) tidak akan sampai mengalami resesi, belum yakin bahwa ekonomi dunia akan segera membaik dalam waktu dekat. Analisa ini dikaitkan dengan perkembangan terakhir dimana krisis ekonomi telah menyeret krisis nilai tukar terbesar yang pernah ada (istilah Krugman the mother of all currency crisis). Di Eropa Timur, dampak krisis global mengakibatkan resesi disejumlah negara. Rontoknya nilai tukar akibat penarikan dana oleh investor, dibarengi anjloknya penerimaan ekspor dan tingginya inflasi memunculkan resiko kebangkrutan seluruh ekonomi Eropa Timur. Nasib yang sama juga dapat menular ke emerging market di Amerika Latin dan Asia.

Krisis Finansial di AS
Akhir-akhir ini, berita mengenai tsunami finansial di Amerika Serikat (AS) selalu menjadi headline news yang menghiasi berbagai media lokal dan internasional. AS dikejutkan dengan rontoknya sejumlah bank investasi serta lembaga keuangan terkemuka di Wall Street, yang kemungkinan masih akan terus berlanjut entah sampai kapan. Bagaikan mimpi buruk di siang bolong. Dalam waktu yang teramat singkat kondisi pasar finansial rontok dan terpuruk, hal ini ditandai dengan bangkrutnya Lehman Brothers, perusahaan sekuritas terbesar ke-4 di AS. Merrill Lynch pun mengiklaskan diri untuk di akuisisi oleh sang rival, Bank of America. Pemerintahan George W. Bush dipaksa untuk menalangi dan dilain pihak Federal Reserve harus menjadi lender of resort (penjamin terakhir perbankan) sejumlah raksasa bank investasi, lembaga asuransi, lembaga sekuritas, dan lembaga penjamin kredit yang juga terpuruk seperti Bear Stearns, IndyMac sampai dengan American International Group (AIG), karena alasan resiko yang sistemik. Dua raksasa bank investasi yakni Morgan Stanley dan Goldman Sachs, kini juga diujung tanduk kebangkrutan.
Seperti sudah diantisipasi, AS saat ini memasuki resesi terburuk sejak Depresi besar tahun 1930, Ekonom JP Morgan Chase memperkirakan Pendapatan Dasar Bruto AS hanya tumbuh sebesar 0.5% pada triwulan ketiga tahun ini dan mengalami penurunan hingga 4% pada triwulan terakhir 2008 (penurunan tertajam sejak resesi 1981). Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) masal di AS kini sudah diambang pintu dengan angka pengganguran 8-8.5% pada akhir tahun ini.

Pemicu Keruntuhan Ekonomi di AS
Anjlok dan runtuhnya raksasa-raksasa lembaga keuangan Wall Street merupakan efek domino dari rentetan krisis kredit macet perumahan (subprime mortgage) yang sudah berlangsung sejak Juli 2007. Hal ini memicu terjadinya domino effect yang menuntun ke spiral kebangkrutan seluruh sistem finansial dan perekonomian global. Karena selama ini AS sebagai sang adidaya ekonomi yang punya pengaruh besar dalam menggerakkan perekonomian dunia. Tidak hanya di AS, krisis global pun turut melanda Inggris, saat ini setidaknya sudah ada dua bank Inggris yang bangkrut yaitu HBOS dan Halifax Bank.
Mengapa subprime mortgage menjadi biang kerok krisis di AS? Cerita sederhananya seperti ini; Dulu pasar properti di AS menjadi bisnis yang sangat menguntungkan karena harga properti selalu merangkak naik. Dan dengan sangat arogan bank-bank di AS ramai-ramai menggelontorkan pinjaman kepemilikan rumah (mortage), kalau di Indonesia bentuknya adalah KPR (Kredit Perumahan Rakyat), tanpa melihat profile dan karakter debitor, dan tanpa jaminan yang memadai. Bahkan pengangguran pun dapat memperoleh subprime loan ini.
Pertumbuhan ekonomi AS yang tidak terlalu menggembirakan sejak 2006 berdampak pada menurunnya harga properti di AS, sehingga hal ini membuat para debitor semakin terbelit dan tidak mampu membayar pinjamannya (default). Tidak hanya sampai disini saja, masalah justru diperparah dengan banyaknya investment banker yang menerbitkan produk derivative subprime mortgage (menerbitkan hutang dengan jaminan mortgage loan). Sehingga ketika kredit macet di KPR maka dampaknya perbankan harus membukukan kerugian atas kredit properti ini dan secara otomatis produk derivative-pun semakin hancur dan terjadilah domino effect yang semakin luas tidak hanya di AS tapi juga merambat ke seluruh dunia, termasuk di Indonesia.

Apakah kapitalisme di AS sudah berakhir?
Sebagai sang adidaya dan “promoter” ideologi kapitalis, AS selama ini menolak masuknya investasi BUMN milik pemerintah asing ke lembaga keuangan dan sektor strategis lain di negaranya, karena desakan nasionalisme warganya. Kini AS harus rela melepaskan harga diri dan ke-aroganannya selama ini dengan mengemis pada bank-bank asing untuk mengakuisisi atau menjadi partner merger bagi bank-bank nasionalnya dan menyuntikkan dana guna membantu likuiditas. Bahkan AS pun tanpa malu-malu mengemis kepada pemerintah China yang selama ini selalu menjadi musuh utama untuk memberikan pinjaman dana, karena saat ini China memiliki cadangan devisa yang paling besar dengan pertumbuhan ekonomi yang paling menakjubkan dalam kurun waktu 10 tahun terakhir.
Rontoknya institusi Wall Street menunjukkan kerapuhan fondasi hegemoni sistem kapitalisme AS dengan Wall Street sebagai pilar utamanya. Krisis ini merupakan akibat kombinasi dari moral hazard yang luar biasa dikalangan industri keuangan Wall Street dan sikap tutup mata dikalangan otoritas pasar finansial, otoritas moneter (Federal) dan juga pemerintah yang selama ini asyik main mata dengan para big boy di Wall Street.
Selama ini AS selalu menjual dan memaksakan konsep kapitalisme dengan pasar bebasnya ke seluruh penjuru dunia. Bahkan negara yang tidak mengikuti-nya akan di ”terror” dengan berbagai cara, seperti yang pernah dilakukan kepada China. Menurut faham kapitalisme ini, penyelesaian setiap krisis ekonomi dan keuangan harus melalui mekanis pasar bebas. Negara dan pemerintah di haramkan turut campur dan mengintervensi, biarkan pasar menyelesaikan dirinya sendiri. Anehnya akhir-akhir ini, Presiden Bush mengusulkan kepada DPR AS agar negara segera mengintervensi dan mengatasi krisis di AS ini melalui pengorbanan seluruh warga AS sebagai pembayar pajak. Bahkan saat ini pemerintah AS sudah melakukan intervensi dana melalui program bail out lebih dari 1 triliun US$. Mungkinkah tanda-tanda tersebut semakin jelas menunjukkan bahwa faham kapitalisme AS dengan pasar bebasnya akan segera berakhir? Kita akan lihat perkembangannya nanti.

Pengaruh Krisis Global di Indonesia
Mungkin terbesit dalam pikiran Anda mengapa Indonesia juga terpengaruh krisis global ini? Hal ini terjadi karena para investor luar negeri yang berada dibursa saham Indonesia ramai-ramai menarik dana untuk dibawa pulang ke negeri asal karena mereka sedang membutuhkan likuiditas. Mereka lebih suka menarik uang kas (cash is king) di pasar saham dan rela untuk cut loss transaction. Maka tidak heran jika dalam waktu sekejab bursa saham Indonesia langsung terpuruk dengan penurunan IHSG mencapai lebih dari 40% dan nilai tukar rupiah sempat menembus angka Rp13.000/US$ dari sebelumnya stabil di angka Rp9.000-Rp9.500/US$. Ini merupakan cermin dari ketidakmampuan pemerintah untuk menarik investor ke sektor riil, sehingga investor luar negeri hanya berinvestasi di pasar modal saja yang sewaktu-waktu bisa ditarik kembali dan di-pulang kampung-kan ke negara asal.
Selain menggalakkan sektor riil, Pemerintah sebaiknya dapat meninjau kembali regulasi di pasar uang dan modal terkait dengan hot money investment dari luar negeri selama ini, sehingga investor asing tidak bisa seenaknya melarikan modalnya (capital outflow) sewaktu-waktu. Sebagai benchmarking, mungkin Pemerintah Indonesia dapat meniru kebijakan yang dilakukan oleh pemerintah Malaysia dalam membatasi hot money tersebut sehingga pelarian modal ke luar negeri dapat dikendalikan dan akhirnya perekonomian Negara dapat lebih stabil dan tidak terlalu terpengaruh dengan rumor. Selain itu semua eksportir juga harus diwajibkan untuk melakukan repatriasi devisa hasil ekspor mereka dengan demikian pemerintah akan memiliki cadangan devisa yang lebih kuat.
Sudah saatnya bagi bangsa kita untuk mawas diri dan bercermin dari kejadian di AS ini, apakah kita masih terus mengadopsi faham kapitalisme dengan sistem ekonomi pasar bebas sebagai pilar utamanya yang sudah terbukti kegagalan dan ketidakadilannya? Di Indonesia konsep pasar bebas ini tidak hanya terjadi di pasar keuangan dan modal saja, tapi sudah merambah ke sektor riil. Tidak hanya impor batik dari China, pemerintah juga mengimpor beras yang sebenarnya merupakan komoditas utama rakyat Indonesia. Tidak heran jika saat ini Indonesia malah menjadi Negara pengimpor beras, padahal dulu Indonesia merupakan salah satu negara eksportir beras. Petani selama ini dianaktirikan dalam pembangunan nasional. Pemerintah lebih fokus kepada sektor keuangan dibandingkan sektor riil. Maka tidak heran jika saat ini nasib petani di Indonesia semakin terpuruk. Sudah saatnya pemerintah memberdayakan sektor riil, meningkatkan kemampuan berdikari ekonomi bangsa ini dan meningkatkan daya saing bangsa ini berbasiskan sumberdaya dan potensi yang kita miliki. Dengan jumlah penduduk sebesar 220 juta jiwa, Indonesia merupakan potensi pasar yang sangat besar dan bisa menjadi tumpuan bagi perusahaan untuk memperpanjang daya tahan hidupnya.
Dalam lingkup perusahaan, imbas krisis global ini pun dirasakan juga oleh TMT Group. Namun dengan kerjasama dan koordinasi seluruh lini perusahaan ditambah dengan kreativitas dan inovasi, diharapkan krisis global ini bisa dilewati dengan mulus. Semulus kita dulu melewati krisis pada tahun 1997/98.
(Martoyo, Accounting Manager, PT Tiara Marga Trakindo – Dari berbagai sumber)
Last Updated ( Tuesday, 02 December 200)
Sumber : http://portal.tmt.co

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

April 2010
M T W T F S S
« Mar   May »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
2627282930  
%d bloggers like this: