Dwipw's Blog

ekonomi dan Krisis

Posted on: April 9, 2010

EKONOMI INDONESIA DAN KRISIS KEUANGAN GLOBAL

Oleh Arrazi Hasan Jan SE MSi
(Dosen Tetap Pada Fakultas Ekonomi Unsrat; Mahasiswa Program Doktor UGM Yogyakarta)

PADA saat ini dunia diperhadapkan pada masalah krisis ekonomi global yang dimulai dengan bangkrutnya lembaga-lembaga keuangan di Amerika sehingga akan berdampak buruk pada negara-negara dalam melakukan investasi keuangan dan usaha-usaha pengembangan di bidang corporate dengan menggunakan standar mata uang dollar Amerika. Krisis ekonomi global secara langsung akan berpengaruh terhadap program-program pemerintah dalam memprioritaskan pembangunan ekonomi daerah maupun nasional, seperti pembiayaan pemerintah, peningkatan ekspor, membuka peluang kepada para penanaman modal asing dan dalam negeri untuk berinvestasi, memperkecil angka pengangguran, pengentasan kemiskinan dan lain-lain. Berdasarkan pengalaman yang pernah dialami pada 1980-an, yaitu resesi global dan krisis moneter 1997 yang mengakibatkan terpuruknya perekonomian negara-negara maju dan berkembang di Asia, termasuk Indonesia.
Pengaruh Resesi Global di Indonesia (1980-1986)
Turunnya harga minyak dan meningkatnya defisit yang diterima Indonesia dalam periode kemunduran perekonomian dan awal 1980-an. Pertumbuhan GDP digambarkan menurun dengan sangat cepat selama periode ini dan tertinggal dari negara-negara Asia lain. Resesi global pada awal 1980-an diakui sebagai penyebab lambatnya pertumbuhan ekonomi, investasi domestik dan asing menurun selama periode ini dan pengeluaran pemerintah pada proyek investasi padat modal yang besar juga dikurangi sebagai tanggapan terhadap penurunan pendapatan minyak sumber utama dari hasil ekonomi. Pendapatan ekspor menurun dan volume hutang meningkat sebagai jawaban atas tingkat bunga dunia yang lebih tinggi selama periode menguatnya perekonomian global dan khususnya perekonomian Indonesia. Banyak pekerjaan hilang karena perusahaan-perusahaan tidak mampu untuk mengoperasikan perusahaannya disebabkan penarikan modal atau pembatalan beberapa proyek yang memerlukan pengeluaran modal dan tenaga. Penurunan sejumlah investasi juga menggambarkan mengatalisasi trend lebih buruk tentang pengangguran selama periode itu.

Tabel 1 menunjukkan bahwa pertumbuhan GDP menurun mencapai 1,1 persen pada 1982 ketika dunia masuk ke dalam resesi global. Inflasi membumbung tinggi mencapai dua digit 1982 dan 1983 yang tercatat 11,79 persen dan 10,46 persen secara berturut-turut. Kontribusi defisit neraca berjalan melebar pada saat resesi dan ekspor menyusut dengan cepat dari 18 persen dan 9 persen pada awal 1980-an. Devaluasi utama yang kedua dalam nilai tukar membantu Indonesia sebagai catatan pertumbuhan GDP yang substansial 8,45 persen yang dapat dibandingkan dengan dukungan tingkat pertumbuhan, dan sesudah itu inflasi berkurang sekitar 4,8 persen pada 1984. Pertumbuhan ekspor menunjukkan tanda-tanda mengalami pemulihan dan peristiwa penting kedua ini untuk pertumbuhan 15,21 persen.
Boom oil kedua: periode pemulihan non-migas dan kebangkitan ekspor non-migas (1986-1995)
Trend menurunnya stabilitas harga minyak pada 1986 dan perekonomian dimulai dengan menyusun kembali kebijakan utamanya dan program pengeluaran di dalam periode ini. Indonesia juga mengalami devaluasi ketiga pada 1986 dimana pemerintah membiarkan nilai rupiah jatuh lebih cepat dibanding sebelumnya dan laju pertumbuhan penawaran uang meningkat. Kebijakan ini, menimbulkan laju inflasi lebih rendah dibanding periode sebelumnya yang dijelaskan oleh kebangkitan ekspor non-migas, mendorong devaluasi nilai tukar, suatu kemunduran relatif kecil dalam pengeluaran fiskal. Dan kunci pengendalian harga yang dikenakan oleh pemerintah di beberapa komoditas dan jasa.

Pertanian, merupakan sektor andalan Indonesia, digantikan oleh sektor produksi pabrikasi yang tercatat mengalami pertumbuhan riil yang sempurna selama periode ini. Investasi, nasional dan dari luar negeri, momentum yang didapat kembalinya dengan berisikan hampir sepertiga seluruh unsur permintaan (van de Meulen Rodgers, 1994). Tabel 2. dimana nilai tambah pabrikasi sebagai persen dari GDP melebihi nilai tambah pertanian sebagian besar khususnya maju pada 1991. Sektor manufaktur tercatat memiliki seperempat GDP pada 1996 sedangkan sektor pertanian hanya tercatat sekitar 16 persen dari GDP dibandingkan dengan hampir 23 persen di awal 1990-an. Pertumbuhan ekspor menunjukkan pertumbuhan berlipat ganda dalam tahun 1987, 1991, dan 1992, dengan akhir tahun menunjukkan pertumbuhan ekspor mengalami peningkatan.
Ekonomi Indonesia Saat Krisis Keuangan Asia
Soesastro (1995) menyatakan bahwa ada ancaman pertumbuhan ekonomi yang terlalu cepat pada pertengahan tahun 1995. Faktor seperti peningkatan inflasi, inflow modal secara besar-besaran oleh para investor asing yang digunakan untuk membiayai keuangan properti, dan permintaan komersial. Inflow modal secara besar-besaran menyumbangkan pengembang property di Indonesia berupa pinjaman uang luar negeri dan sebagian besar dalam dolar AS tercatat stabil pada waktu itu. Beberapa skeptis menyatakan bahwa laju inflasi di Indonesia dalam tahap wajar (dan menurun), pada 2,3 persen, menyebabkan pertumbuhan ekonomi cepat. Defisit current account yang meluas bukan ancaman terhadap stabilitas ekonomi dan mengurangi setiap bahaya yang akan menjurus ambruknya ekonomi. Bahwa ekonomi sedang diarahkan bagi investasi yang berlebihan atas tabungan nasional dan atraksi modal asing ke Indonesia bukan digunakan untuk membiayai defisit current account dalam negeri tetapi untuk menghimpun cadangan asing (Yakobus 1995). Pembelaan terhadap ancaman ‘’pertumbuhan yang terlalu cepat’’ memandang bahwa defisit mendorong Indonesia ke dalam krisis nilai tukar dan outflow modal substansial. Bird (1996) memandang bahwa pertumbuhan ekspor menunjukkan tanda-tanda pemulihan, mengurangi defisit current account. Cadangan asing yang dikumpulkan perlu menjaga Indonesia menghadapi setiap ancaman yang mungkin dari outflow modal. Manning & Jayasuriya (1996) mengatakan bahwa ada dua faktor pertumbuhan yang cepat:
– Gerakan modal swasta menempatkan pemanfaatan modal publik yang memainkan peran jauh lebih besar.
– Spekulasi dan ketidakpastian politik meluas, membuat Indonesia sangat lemah terhadap setiap gerakan modal yang tidak stabil karena hilangnya keyakinan para investor.
Perhatian belum diberikan oleh penguasa pada indikasi ditunjukkan perekonomian yang menyebabkan Indonesia masuk dalam Krisis Keuangan Asia itu terjadi pada 1997, dimulai dengan depresiasi Thai Bath. Gerakan modal sektor swasta yang tinggi menyebabkan banyak bank dan perusahaan bangkrut, disebabkan banyak pinjaman macet (NPLS) karena kebanyakan dari mereka tidak mampu mengembalikan pinjaman. Mendorong bank sentral Indonesia (BI) mengeluarkan perintah terhadap bank-bank untuk memulihkan kepercayaan masyarakat dan investor. Penyisihan cadangan valuta asing menunjukkan bahwa inflow modal digunakan untuk membiayai defisit anggaran dan hanya bagian kecil dikumpulkan sebagai cadangan asing. Ketidakpastian politik yang mungkin untuk mempengaruhi pembangunan ekonomi dan trend di Indonesia. Investor menjadi lebih sulit untuk memperpanjang investasi dan pada 1998 pemilihan presiden adalah titik-kritis perekonomian Indonesia akan mempertinggi tingkat kesadaran dan perhatian investor asing. Krisis Indonesia 1997 mulai dengan outflow modal secara besar-besaran dari berbagai negara. Outflow modal secara besar-besaran ini pada akhirnya ambruknya mata uang Indonesia. Pada awal krisis, Juli 1997, mata uang Indonesia jatuh mencapai 7 persen. Akhirnya pada 14 Agustus 1997, mata uang Indonesia melemah dan ditandai dengan sejarah yang panjang sistem nilai tukar mengambang yang diatur dan ditetapkan. Mendorong bank sentral Indonesia (BI) mengeluarkan perintah terhadap bank-bank untuk memulihkan kepercayaan masyarakat dan investor. Penyisihan cadangan valuta asing menunjukkan bahwa inflow modal digunakan untuk membiayai defisit anggaran dan hanya bagian kecil dikumpulkan sebagai cadangan asing. Ketidakpastian politik yang mungkin untuk mempengaruhi pembangunan ekonomi dan trend di Indonesia. Investor menjadi lebih sulit untuk memperpanjang investasi dan pada 1998 pemilihan presiden adalah titik-kritis perekonomian Indonesia akan mempertinggi tingkat kesadaran dan perhatian investor asing. Pada tabel. 3 dapat dilihat struktur hutang luar negeri oleh bank-bank nasional Indonesia dan perusahaan swasta pada 1995 sampai periode saat krisis di tengah-tengah 1997 adalah sebagai berikut:

Inflow modal secara besar-besaran disebabkan oleh beberapa faktor di antaranya:
– Pertama-tama, liberalisasi di sektor perbankan dan sektor keuangan yang diadopsi oleh pemerintah Indonesia pada awal 1990-an bagi perusahaan domestik untuk mencari akses modal asing.
– Kedua, deregulasi sektor perbankan dan sektor keuangan tidak disertai oleh pengawasan yang cukup dari pemerintah, seperti menciptakan lingkungan kondusif dengan bunga tinggi pinjaman jangka pendek yang diizinkan bank-bank untuk menerima valuta asing cukup besar dan risiko jatuh tempo.
– Ketiga, tingkat bunga rendah di Jepang menyebabkan investasi keluar dari Indonesia khususnya dan untuk negara-negara Southeast Asian secara umum.
Sebelum krisis hutang jangka pendek Indonesia dengan rasio cadangan valuta asing melewati 1 seperti yang ditunjukkan pada tabel. 3 membuat negara dalam menghadapi ancaman sampai menyebabkan kepanikan, dimana hutang jangka pendek Indonesia melebihi cadangan valuta asing. Masalah dasar hutang jangka pendek yang besar digunakan untuk spekulasi dan investasi yang tidak dibendung di dalam pemasaran ril estate (atau barang-barang lain yang tidak diperdagangkan) digunakan untuk meningkatkan kapasitas produksi ekspor barang manufaktur yang dihasilkan (barang-barang yang diperdagangkan) seperti pada periode sebelumnya.

Pada tabel 4 menunjukkan bahwa GDP berbagai barang turun 40,2 persen pada 1985 menjadi 38,9 persen pada 1995, sementara pangsa barang yang tidak diperdagangkan meningkat dari 59,8 persen pada 1985 menjadi 61,1 persen pada 1995. Walaupun grafik mencerminkan perubahan yang relatif kecil terhadap pendapatan GDP dari barang-barang diperdagangkan pada barang-barang tidak diperdagangkan. Radelet dan Sachs (1998) beranggapan bahwa jumlah perusahaan kelihatannya mengalihkan modal kerja mereka dan pinjaman ke arah investasi ril estate lain. Nasution (1999) dimana ia menyatakan bahwa mutu rendah investasi dibiayai oleh inflow modal jangka pendek secara besar-besaran seperti dapat dilihat dari defisit current account yang meluas dan menaikan hutang eksternal.

Pada tabel 5 menunjukkan defisit current account Indonesia pada 1996-1997, rata-rata 3,5 persen, paling rendah dibandingkan dengan tiga negara-negara. Pada tabel 6. menunjukkan anggaran Indonesia di dalam surplus dengan rerata di atas 1 persen dari GDP untuk empat tahun. Radelet dan Sachs mengatakan bahwa faktor-faktor penyebab utama mempengaruhi krisis datang dari krisis Baht dan lemah perekonomian Jepang. Krisis Baht mulai 2 Juli 1997 dengan menurunnya kurs dan meluas dengan cepat ke Indonesia, Malaysia, dan Negara Philipina (Hill 1999). Mekanisme transmisi menyebarnya krisis Thailand ke Indonesia atas hubungan perdagangan. Krisis Thailand menyebar ke Indonesia dengan demikian maka kegiatan-kegiatan ekonomi mengalami kemerosotan dan impor di Thailand mengurangi ekspor Indonesia.

Karminsky & Reinhart (2000), mengatakan di samping hubungan perdagangan, negara-negara yang berbeda sifat saling tergantung, mereka meminjam dari kreditur yang sama. Pada kasus Thailand dan Indonesia sebagian besar dari kreditur yang sama, yaitu Jepang. Pada tabel 7 Indonesia dan Thailand meminjam dari Jepang dengan pangsa paling tinggi dari jumlah 47 persen, 40 persen, dan 40 persen untuk Indonesia dan 58 persen, 60 persen, dan 54 persen untuk Thailand selama 1995, 1996, dan 1997. Penjelasan lain berhubungan dengan penyebab pengaruh krisis adalah lebih dekat dengan Jepang dalam tahun 1997. Krisis dialami Jepang 1997 disebabkan banyak dari banknya, dengan berat memberikan pinjaman ke Indonesia (dan ekonomi Asia lain) sejak delapan puluhan dan sembilan puluh (karena tingkat bunga yang rendah di Jepang). Kerugian atas modal mereka dimintakan untuk keseimbangan ulang, portofolio mereka dalam urutan Rasio Kecukupan Modal (CAR). Karena persyaratan kecukupan modal yang lebih tinggi untuk internasional dibandingkan pinjaman nasional. Memaksa banyak dari bank untuk mengingat pinjaman luar negeri yang dipinjamkan ke Indonesia dan negara-negara Asia lain. Inilah satu faktor penting, yang mendukung pelarian modal mendadak dialami Indonesia selama krisis, seperti kebanyakan dari kredit-kredit Indonesia (sekitar 35 persen total hutang) pinjaman dari Jepang. Ini dapat dilihat dari Tabel 8.

Seandainya, Indonesia mengatur hutang jangka pendek dengan bijaksana dan membiasakan untuk menanam modal dalam sektor manufaktur itu untuk menaikkan ekspor dengan optimizing daya produksi ekonomi. Dengan demikian, hutang jangka pendek mampu menghasilkan pendapatan dolar yang diperlukan untuk membayar kembali hutang-hutang. Seandainya, Indonesia mengatur hutang jangka pendek dengan lebih bijaksana, dampak dari pelarian modal yang begitu mendadak, karena melemahnya ekonomi Jepang, tidak akan menjadi sangat parah seperti sudah terjadi. Kebijakan ekonomi makro yang lemah berdampak pada mismanajemen hutang jangka pendek dan membuat negara menjadi lebih rentan terhadap risiko nilai tukar. Efek buruk yang timbul dari krisis mata uang Baht dan melemah perekonomian Jepang ikut berperan dalam munculnya distorsi yang sudah ada. Untuk pertimbangan ini, studi IMF (1999) mengungkapkan arti penting fundamental ekonomi dan menunjukkan bahwa beberapa negara yang terkena dampak krisis finansial memiliki kelemahan yang sama. Penting diingat bahwa meskipun efek penularan bukanlah alasan fundamental di balik krisis Indonesia. Efek itu berperan signifikan dalam pengenalan krisis finansial Asia dan tidak boleh diremehkan (seperti sudah ditekankan sebelumnya, ketidakseimbangan ekonomi pada suatu negara itu sendiri tidak cukup sebagai penyebab krisis). Hal ini sangat benar dalam jenis krisis yang berasal dari kepanikan finansial yang tepatnya merupakan tipe krisis yang menimpa Indonesia pada 1997.
Krisis Ekonomi Global
Dalam istilah makroekonomi, resesi berarti penurunan GDP (gross domestic products) suatu negara atau adanya pertumbuhan ekonomi negatif selama dua periode triwulan atau lebih. Jika resesi ini diikuti dengan naiknya harga barang secara umum (inflasi), maka fenomena yang terjadi biasanya disebut sebagai stagflasi. Fenomena resesi biasanya berlangsung singkat dan memiliki periode tertentu. Resesi juga seringkali disebut sebagai kontraksi ekonomi. Namun jika resesi berlangsung cukup lama, maka fenomena yang terjadi akan berkembang menjadi sebuah ‘depresi ekonomi’ (economic depression). Kekhawatiran akan terjadinya resesi di 2008 ini dipicu oleh beberapa peristiwa penting dalam indikator ekonomi makro AS belakangan ini. Beberapa indikator resesi yang dapat dilihat secara kasat mata saat ini antara lain semakin lemahnya daya serap pasar tenaga kerja di AS, daya beli masyarakat AS yang turun drastis sehingga berpotensi menekan pelaku industri, defisit perdagangan dan government spending AS yang banyak sekali dihabiskan untuk perang, serta kerugian dari kasus kredit macet sektor perumahan yang jumlahnya fenomenal dan mengguncang fondasi ekonomi AS. Banyak yang pesimis dengan peran The Fed dalam mengatasi krisis keuangan yang terjadi saat ini. Dikatakan bahwa usaha yang dilakukan oleh The Fed adalah sesuatu yang percuma, ‘It’s too little, too late’. Usaha bank sentral dipandang hanya akan menyediakan ‘’lantai’’ untuk hard landing dan tidak akan mencegah hard landing tersebut. Yang dikhawatirkan saat ini adalah suplai uang yang begitu besar telah diinjeksikan ke dalam masyarakat melalui tingkat suku bunga rendah dan berbagai program pinjaman pemerintah (bantuan likuiditas). Namun jika modal-modal tersebut dibiarkan begitu saja tanpa digunakan untuk memutar roda aktivitas ekonomi, maka uang yang beredar di masyarakat akan semakin melimpah dan mengendap. Inilah yang berpotensi untuk menciptakan inflasi. Masalahnya, dengan kondisi perekonomian yang masih labil, kalangan industri dan usaha lainnya enggan untuk mengambil risiko untuk mengembangkan usahanya di saat-saat krisis seperti saat ini. Sebenarnya pemerintah AS telah meng-encourage para pelaku pasar dengan berbagai stimulus ekonomi menjalankan kembali perekonomian. Namun masalahnya adalah para pelaku pasar belum dapat percaya pada situasi ekonomi saat ini. Sentimen positif yang ditunggu oleh pemerintah AS tidak juga datang, malah ancaman inflasi yang semakin mengancam mengingat gagalnya berbagai stimulus tersebut. Lalu mengapa kebijakan moneter AS dianggap tidak efektif dalam mengatasi krisis keuangan AS saat ini? Ada tiga alasan utama mengapa kebijakan yang dijalankan The Fed dan pemerintah AS belum dapat dikatakan efektif. Yang pertama adalah eksistensi dari non-bank financial sistem. Atau seringkali disebut sebagai ‘shadow banking system’. Mulai dari institusi hedge funds, pasar modal, sovereigh wealth funds, bank-bank investasi dan lainnya. Kelemahan dari shadow banking system ini terletak pada kecenderungan spekulasi yang seringkali mereka lakukan. Tingkat risiko yang tinggi dari aktivitas ekonomi mereka menjadi sebuah ancaman bagi financial recovery yang sedang dijalankan oleh pemerintah AS. Yang kedua adalah AS tidak hanya ‘terluka’ dari likuiditas namun menderita banyak kebangkrutan. Pada kasus 1998, masalahnya hanya terletak pada likuiditas, sehingga kebijakan easy money cukup efektif untuk dilakukan. Saat ini, lebih dari 200 institusi keuangan yang dulu bertindak sebagai mortgage lenders (pemberi pinjaman) telah bangkrut. Krisis kali ini tidak dapat dipecahkan hanya dengan ‘’throw some money at the problem’’. Yang terakhir adalah atmosfir ekonomi yang dipenuhi dengan ketidakpastian; bukan risiko. Risiko dalam aktivitas ekonomi merupakan sesuatu yang bisa diukur dan dapat dikendalikan. Namun ketidakpastian sama sekali tidak dapat diukur dan justru akan merusak aktivitas ekonomi. Ketidakpastian ini berbuntut ketidakpercayaan. Dan akhirnya, suntikan dana yang begitu besar justru bertahan di sistem-sistem perbankan karena pelaku pasar masih takut untuk kembali berinvestasi. Banyak analis mengatakan bahwa jika AS mengalami soft landing atau berhasil menghindari resesi, maka ekonomi global akan mengalami de-coupling dan tidak akan terlalu terpengaruh oleh kondisi keuangan AS. Namun jika yang terjadi adalah hard landing maka kemungkinan re-coupling akan sangat besar terjadi dan ekonomi dunia akan terseret iktu menuju global economy slowdown. Pada 2007, AS berhasil meminimalisir dampak sementara dari krisis kredit macet yang menyebabkan kepanikan global. AS dapat dikatakan berhasil melakukan soft landing. Ekonomi dunia pada saat itu pun tidak terpengaruh secara signifikan. Jatuhnya saham global pun berhasil pulih dalam jangka waktu tiga hari hingga seminggu. Namun prediksi resesi yang akan terjadi di kuarter pertama 2008 tampaknya memiliki potensi untuk menjadi kenyataan. Jelas bahwa krisis ekonomi AS saat ini terjadi tidak hanya disebabkan oleh buruknya pengawasan likuiditas finansial saja. Kebijakan easy money belum akan dapat mengatasi masalah karena yang saat ini menjadi akar masalah adalah atmosfir ketidakpastian dan ketidakpercayaan pelaku usaha untuk kembali menjalankan aktivitas usahanya. Kebijakan moneter baru dapat efektif jika dapat diikuti dengan pemulihan kepercayaan terhadap institusi perbankan dan institusi pemeringkat yang saat ini dijadikan kambing hitam atas lemahnya safeguard ekonomi AS. Tampaknya dunia memang harus bersiap menghadapi kemungkinan yang terburuk.
Ekonomian Indonesia Saat Ini
Kondisi di Indonesia sendiri menurut Prof DR Amien Rais MA menyebutkan bahwa berdasarkan peraturan pemerintah No.77 tahun 2007 mengatur bahwasanya; bank devisa, bank non-devisa dan lain-lain bisa dikuasai 99% oleh pemodal asing, begitu pula di sektor kelistrikan. Selain itu untuk sektor pertanian ladang palawija di atas 25 hektar dapat dikuasai oleh asing sebanyak 95%, dimana para pemain di pasar uang Indonesia umumnya berasal dari luar negeri yang berkisar antara 60-70 persen. Hal tersebut menyebabkan kondisi ekonomi kita masih dipengaruhi oleh pihak asing. Arus uang masuk ke Indonesia sifatnya hanya mencari gain sementara sehingga tidak bisa masuk menjadi modal permanen bagi pembangunan Indonesia. Angka pertumbuhan Indonesia yang masih tergolong tinggi dibanding negara-negara maju menjadi spread keuntungan bagi spekulan untuk memutar modal mereka.
Negara saat ini dalam kondisi mengkhawatirkan dimana ketergantungan bangsa kita terhadap modal asing ataupun bantuan asing begitu tingginya sehingga telah merapuhkan jati diri bangsa yang bermartabat, berbudaya, dan beradab. Ketergantungan itu justru menjadi hal yang sulit terhindarkan menjerat abadi dalam lika-liku panjang ekonomi Indonesia. Kemandirian bangsa ini seakan sulit ditegakkan, belum lagi ketidakberdayaan bangsa ini dalam mengolah asset-asset potensi nasional secara optimal. Upaya efektif untuk keluar dari krisis ekonomi global Indonesia sebenarnya harus mencoba alternatif lain dengan cara memperkuat potensi wilayah agar tetap terjaga sebagai Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Dalam rangka bergelut di tengah-tengah perekonomian global, jelas pemberdayaan potensi wilayah sangat menentukan. Ini mengingat bahwa dalam perekonomian global tantangan berat adalah negara dengan wilayah dan berpenduduk yang besar. Jika gagal strateginya, maka akan tergilas habis dalam percaturan dunia. Dan, di sinilah sumber kejahatan serta ketimpangan sosial yang ganas dalam kehidupan di sebuah negara. Peranan pemerintah daerah sangat penting dibanding dengan pemerintah pusat. Dalam segi ekonomi, maka potensi wilayah harus dibangkitkan dengan pemberdayaan masyarakat setempat agar mereka bisa menikmati dan menyumbangkan potensi diri untuk NKRI. Masyarakat di daerah dengan prakarsa kepala daerah harus aktif dalam menciptakan keunggulan bersaing (competitive advantage)-nya masing-masing. Pada akhirnya, secara merata dlam suatu wilayah Indonesia yang luas ini tercipta kekuatan besar yang mampu menghadapi ekonomi global. Pembangunan harus berdasar geographically cluster maping, mengingat Indonesia ini luas sekali berkaitan dengan aspek sosial, ekonomi, budaya dan politik. Pangkas birokrasi kekuatan totaliter sebagai sumber pemborosan waktu dan energi dan berilah peluang pada masyarakat untuk berpartisipasi. Dalam segi politik, misalnya, maka pilihan kepala daerah (Pilkada) dan prosesnya juga harus dengan cara memberdayakan kemampuan mereka tanpa terlalu banyak intervensi pusat. Buatlah sistem yang mengandalkan pemberdayaan potensi daerah untuk membangkitkan semangat nasionalisme. Dengan demikian, akan tercipta kekuatan besar NKRI dalam menghadapi ekonomi global. Di samping itu kebutuhan bahan-bahan produksi impor harus segera kita carikan solusi alternatif pemecahannya. Kalau perlu tenaga alternatif yang memang sudah tersedia di Indonesia bisa kita manfaatkan sebagai pengganti bahan produksi. Dan yang lebih urgen untuk bisa kita terhindar dari krisis global ini adalah dengan lebih menggerakkan sektor riil sebagai pendorong pertumbuhan yang disertai dengan penyediaan lapangan pekerjaan yang memadai. Karena sektor riil merupakan representasi mesin produksi lokal yang mampu sebagai stabilisasi ekonomi bangsa. Stabilitas mendorong orang untuk berinvestasi dan yang paling pentingnya pula adalah peran partisipasi aktif ekonomi kerakyatan dalam menggerakkan berbagai sektor ekonomi potensi perlu segera diselaraskan. Pemberdayaan usaha kecil menengah (UKM), menyuport industri kreatif serta penerapan tekhnologi tepat guna menjadi sasaran pokok penguatan fundamental perekonomian.
Sumber: Manado Post

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

April 2010
M T W T F S S
« Mar   May »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
2627282930  
%d bloggers like this: